berita

Rencana Pajak E-Commerce yang Di Pertanyakan Oleh IdEA

Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA), menginginkan mengulas selanjutnya dengan pemerintah berkaitan ada gagasan aplikasi pajak e-commerce.

Aulia E. Marinto, Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) mengatakan pihaknya inginkan supaya pengenaan pajak e-commerce bukan sekedar mengarah aktor usaha di marketplace. Tapi juga membidik beberapa aktor usaha over the top (OTT) bahkan juga yang belum juga dengan resmi berada di Indonesia.

Rencana Pajak E-Commerce yang Di Pertanyakan Oleh IdEA

“Jika Direktur Jendral Pajak (DJP) kenakan pajak per transaksi di marketplace, butuh diperhitungkan efeknya, mungkin beberapa penjual (on-line) akan geser dari marketplace ke basis OTT, ” kata Aulia pada KONTAN. Senin (9/10).

Bukan sekedar itu, Aulia juga mengemukakan kalau beberapa aktor e-commerce yang ada, sudah lakukan investasi besar tetapi belum juga hasilkan. Hingga masih tetap butuh saat untuk berkembang.

Meski begitu, dalam level playing of field, idEA juga mensupport seutuhnya. Karna untuk sekarang ini pemain lokal telah membayar pajak sesuai sama ketetapan yang berlaku serta sesuai dengan semasing jenis usaha.

Setelah itu, IdEA terasa butuh diselenggarakan diskusi dengan Kementrian Keuangan serta DJP. “Berdiskusi mencari jalan keluar paling baik sekalian mengemukakan input tidak untuk menerbitkan ketentuan pajak e-commerce ini, sebelumnya industri serta pemerintah memperoleh pemahaman yang sama, utuh, serta komperhensif pada efek yang punya potensi, ” terang Aulia.

Perubahan e-Commerce di Indonesia yang demikian cepat, berimbas pada lonjakan perkembangan jasa logistik serta express. Pada periode 2016-2017 nyaris semuanya penyedia jasa logistik serta express tumbuh diatas 30 %.

Sekian disibakkan General Manager (GM) Express JNE, Agusnur Widodo, di Hotel Hilton, Jln. HOS Tjokroaminoto, Bandung, beberapa waktu terakhir. Pada periode itu kemampuan jasa logistik serta express JNE tumbuh 30-40 %.

” Perubahan e-Commerce demikian cepat. Penjualan pemain besar e-Commerce naik lumayan tinggi. Ini berimbas pada logistik serta express. Nyaris semuanya express berkembang cepat. Habit berbelanja saat ini kan ke on-line, ” tuturnya.

Peran Jawa barat termasuk besar. Dengan jumlah masyarakat besar serta biasanya telah melek info, peran Jawa barat menjangkau 10-15 % nasional. Meski sekian, kontributor paling besar masih tetap dipegang Jakarta.

Deputy GM JNE, Hasmeliyani Suseno, memberikan, fesyen jadi product paling banyak dibeli orang-orang dengan on-line. Nyaris 48 % paket e-Commerce yang diantar lewat JNE adalah product fesyen.

” Perubahan fesyen Indonesia begitu besar. Terkecuali fesyen, kuliner juga jadi product yang banyak dibeli orang-orang dengan on-line, ” katanya.

Ia menyebutkan, tingginya ketertarikan orang-orang untuk beli makanan dengan on-line pulalah yang mendorong JNE meluncurkan Pesona Nusantara mulai sejak 2012. Lewat Pesona Nusantara, customer dapat beli makanan ciri khas dari bermacam daerah di Indonesia serta JNE semakin nyaman dengan adanya cek resi jne agar konsumen lebih nyaman.

” Kami telah bekerja sama juga dengan beberapa UMKM makanan ciri khas dari beragam daerah, ” katanya.

Seperti di ketahui, satu tahun lebih paling akhir Indonesia masuk masa ” The Borderless World ” dengan masif. Lebih dari separuh populasi negeri ini telah tersambung dengan internet. Dua th. paling akhir, penetrasi internet di Indonesia naik penting, dengan laju perkembangan sebesar 50, 8 %.

Keadaan ini mendorong perkembangan e-Commerce dengan penting. Chief Berbagi Vision Dimitri Mahayana memperkirakan, pada 2025 nilai transaksi e-Commerce Indonesia juga akan menjangkau 46 miliar dolar Amerika Serikat (AS).

Data Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) 2016 mengatakan, penetrasi internet di Indonesia telah menjangkau 132, 7 juta dari 256, 2 juta masyarakat atau 51, 8 % populasi. Pada th. terlebih dulu, penetrasi pemakai internet diprediksikan baru menjangkau 88 juta jiwa.

Tidak cuma populasi netizen, jumlah pemakai smartphone juga selalu menanjak dengan penting. Data Instansi Penelitian Telematika Berbagi Vision mengatakan, laju perkembangan majemuk tahunan (compound annual growth rate/CAGR) smartphone menjangkau 11 % serta CAGR internet 13 %.